Bulan Sya’ban (Ruwah): Saatnya Mengingat Kematian dan Memperbaiki Diri. Ustadz Ali Makhsum, S.S., M.A.

Bulan Sya’ban, yang oleh masyarakat Jawa dikenal sebagai Bulan Ruwah, merupakan waktu yang penuh makna bagi umat Islam menjadi pengingat bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara, sementara kematian adalah kepastian yang akan dialami setiap manusia dan menjadi momen penting untuk memperbaiki diri sebelum datangnya bulan suci Ramadhan. Dalam tradisi Islam dan budaya masyarakat Jawa, Bulan Ruwah sering diisi dengan ziarah kubur sebagai sarana mengingat kematian hati diharapkan menjadi lebih lembut, kesombongan berkurang, dan manusia sadar bahwa suatu hari kelak dirinya pun akan berada di dalam liang lahat.

Foto:Ustadz Ali Makhsum, S.S., M.A. menyampaikan kajian pada Jumat Religi

Rasulullah menganjurkan umatnya untuk sering mengingat kematian, karena kematian mampu menyadarkan manusia agar tidak terlena oleh dunia. Jangan sampai penyesalan datang ketika sudah berada di alam kubur, sementara selama hidup lalai dari ibadah dan kebaikan. Semua yang kita miliki di dunia—harta, jabatan, dan kedudukan—pada hakikatnya hanyalah titipan dari Allah SWT dan akan dimintai pertanggungjawaban, setiap muslim diajak untuk memperbaiki akhlak pribadi, mempererat hubungan sosial, serta menjaga lingkungan. Menjadi orang shalih tidak hanya tercermin dari ibadah personal, tetapi juga dari sikap dan perilaku yang membawa manfaat bagi sesama.

Foto:Civitas akademika yang hadir pada kajian Jum’at Religi

Sebagai bentuk penguatan nilai-nilai keislaman tersebut, USAHID Surakarta dan STP SAHID Surakarta menyelenggarakan kegiatan Jum’at Religi yang dilaksanakan di Masjid Sahid Sahirman Nurul ‘Ilmi. Melalui kegiatan Jum’at Religi ini, civitas akademika diajak untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, menyiapkan bekal kehidupan akhirat, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjalani hidup dengan penuh kebaikan dan keikhlasan.

Foto: Kajian ditutup dengan pembagian snack

Semoga Bulan Sya’ban menjadi momentum bagi kita semua untuk tidak lalai, senantiasa memperbaiki diri, dan menjadi pribadi yang lebih bertakwa. Karena pada akhirnya, setiap jiwa akan kembali kepada Allah SWT, dan hanya amal kebaikanlah yang akan menemani.

 

{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.singularReviewCountLabel }}
{{ reviewsTotal }}{{ options.labels.pluralReviewCountLabel }}
{{ options.labels.newReviewButton }}
{{ userData.canReview.message }}